1436984266241

    Tunanetra meskipun tidak memiliki kemampuan dalam indra penglihatan, tetapi mereka diberi kemampuan untuk peka pada indra peraba. Untuk melakukan transaksi yang berhubungan dengan uang mereka juga dapat melakukan peraba pada tekstur uang. Namun, ternyata sejumlah tunanetra mengalami kesulitan dalam perabaan uang saat kondisi uang sudah lusuh atau lama. Maka seringkali mereka bertanya pada orang lain sebelum melakukan transaksi.

    Melihat fenomena itu, Nirakatriena Pravitaswari (20) mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Brawijaya (FISIP UB) dan Dimitrij Bryant Narahendra Wororistya (21) mahasiswa Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UB mengagas ide membuat alat membantu tunanetra dalam pengenalan uang. Menurut Nira, tunanetra juga bisa mengenali uang dengan membandingkan panjang atau lebar uang ukuran kertasnya. “Namun kalau tidak ada pembanding, tentu kesulitan untuk diidentifikasi,” ucap Nira.

     Untuk itu mereka bergabung dengan tiga mahasiswa teknik elektro UB untuk membuat alat sensor uang yang dinamakan Montalk (Money Talking). Mereka yaitu Cahyo Tribuono (21), Akbar Waisakti Heranda (21), dan Diana Ramadhani (19). “Nira dan Bryant yang memberi ide dan kami mewujudkannya dalam alat berdasarkan terapan ilmu kami,” jelas Cahyo saat ditemui di laboratorium elektro UB, Senin (15/6/2015).

    Alat yang mereka buat mengadaptasi alat sensor warna yang mengeluarkan suara sebagai alat pembelajaran siswa TK. Prototype yang mereka buat memiliki ukuran 15x8x10 cm, dengan menggunakan baterai dengan daya 2200 m AH yang bisa diisi ulang. “Dengan baterai 2200 sudah bisa bertahan selama seminggu,” jelasnya. Alat ini digunakan untuk menyensor warna dominan pada uang kertas, seperti pecahan Rp 5.000 dengan warna kekuningan, warna ungu untuk Rp 10.000, warna dominan hijau tua untuk Rp 20.000, warna biru untuk Rp 50.000 dan warna merah Rp 100.000.

      Cara penggunaan alat ini adalah dengan memasukkan uang kertas ke dalam bagian sensor yang berada di samping. Beberapa detik kemudian alat ini akan menyebutkan nominal uang yang dimasukkan. “Karena untuk tunanetra maka tekstur sensor, tombol on/off dan speaker kami perjelas, sehingga mereka tidak kesulitan saat memasukkan kertas,” terangnya. (sulvi sofiana/Humas UB).